Segala Puji Hanya Bagi Allah SWT



Segala puji hanya bagi Allah SWT
Mengapa….?
Mengapa kalimat ini diucapkan ketika mendapat kesenangan ?
Mengapa kalimat ini diucapkan ketika mendapat kemudahan ?
Mengapa kalimat ini diucapkan ketika mendapat uang ? status ? bantuan ?
Mengapa tidak diucapkan ketika Allah SWT memperkuat diri kita dengan musibah ?
Mengapa tidak diucapkan ketika Allah SWT memperkuat diri kita dengan kesedihan ?
Mengapa tidak diucapkan ketika Allah SWT memperkuat diri kita dengan ketidakberdayaan ?
Kemunduran Kejatuhan ? Kehancuran ? Kemelaratan ? Kesakitan ? Kehilangan ? Fitnah ?
Segala puji hanya bagi Allah SWT
Mengapa…?
Mengapa kita selalu haus pujian ?
Mengapa kita selalu merasa berhak untuk dipuji ?
Mengapa kita selalu berlomba dan bersusah payah untuk dipuji ?
Mengapa kita berusaha mengubah diri untuk dipuji ?
Mengapa kita mengkondisikan anak agar selalu dipuji dan terpuji ?
Mengapa segala yang melekat dengan diri kita harus selalu dipuji ?
Segala puji hanya bagi Allah SWT
DIA – lah yang memiliki segala pujian
DIA – lah yang Maha Sempurna dan Maha Tinggi dengan segala pujiannya
Hanya DIA – lah yang berhak dipuji dan pemilik segala pujian
Apakah pantas manusia mendapatkan pujian dari sesama manusia ?

Posted by
umar fatah

More

Siapakah TUHAN - mu?


Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh 

Kita diciptakan Allah SWT hanya semata mata adalah untuk beribadah .
Kita sudah mengucapkan dua kalimat syahadat . 
Kita sudah berikrar bahwa tiada TUHAN selain Allah SWT . 
Benarkah itu...? mari kita lihat...

Tuhan adalah suatu yang kita SEMBAH dan PUJA , kita TAKUTI , kita PRIORITAS kan, dan mampu MEMAKSA kita melakukan sesuatu yang tidak kita sukai .

Allah SWT paling tidak bisa di DUA kan , menduakan Allah SWT berarti syirik dan itu dosa tidak berampun .

Dalam hidup kita , apakah yang kita sembah dan prioritaskan ?
Uangkah ? Nilaikah ? Statuskah ? Surgakah ? Kesenangankah ? Egokah ? Nama besarkah ? semua ...kah... kah yang lain selain Allah SWT .

Ingat , IBADAH adalah segala tindak perbuatan kita yang dilakukan hanya semata mata
KARENA ALLAH SWT , tidak ada pamrih apapun .

Jadi pertanyaan utama , SIAPAKAH TUHAN MU ...?
Ingat , di akhirat kita tidak bisa berbohong .

Wassalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Posted by
umar fatah

More

Ujub dan Takabur

Bayazid Al-Busthami
Berikut ini sebuah cerita dari Bayazid Al-Busthami, yang insya Allah, dapat kita ambil pelajaran daripadanya; Di samping seorang sufi, Bayazid juga adalah pengajar tasawuf. Di antara jamaahnya, ada seorang santri yang juga memiliki murid yang banyak. Santri itu juga menjadi kyai bagi jamaahnya sendiri. Karena telah memiliki murid, santri ini selalu memakai pakaian yang menunjukkan kesalihannya, seperti baju putih, serban, dan wewangian tertentu. Suatu saat, muridnya itu mengadu kepada Bayazid, “Tuan Guru, saya sudah beribadat tiga puluh tahun lamanya. Saya shalat setiap malam dan puasa setiap hari, tapi anehnya, saya belum mengalami pengalaman ruhani yang Tuan Guru ceritakan. Saya tak pernah saksikan apa pun yang Tuan gambarkan.” Bayazid menjawab, “Sekiranya kau beribadat selama tiga ratus tahun pun, kau takkan mencapai satu butir pun debu mukasyafah dalam hidupmu.” Murid itu heran, “Mengapa, ya Tuan Guru?” “Karena kau tertutup oleh dirimu,” jawab Bayazid. “Bisakah kau obati aku agar hijab itu tersingkap?” pinta sang murid. “Bisa,” ucap Bayazid, “tapi kau takkan melakukannya.” “Tentu saja akan aku lakukan,” sanggah murid itu. “Baiklah kalau begitu,” kata Bayazid, “sekarang tanggalkan pakaianmu. Sebagai gantinya, pakailah baju yang lusuh, sobek, dan compang-camping. Gantungkan di lehermu kantung berisi kacang. Pergilah kau ke pasar, kumpulkan sebanyak mungkin anak-anak kecil di sana. Katakan pada mereka, “Hai anak- anak, barangsiapa di antara kalian yang mau menampar aku satu kali, aku beri satu kantung kacang.” Lalu datangilah tempat di mana jamaah kamu sering mengagumimu. Katakan juga pada mereka, “Siapa yang mau menampar mukaku, aku beri satu kantung kacang!” “Subhanallah, masya Allah, lailahailallah,” kata murid itu terkejut. Bayazid berkata, “Jika kalimat-kalimat suci itu diucapkan oleh orang kafir, ia berubah menjadi mukmin. Tapi kalau kalimat itu diucapkan oleh seorang sepertimu, kau berubah dari mukmin menjadi kafir.” Murid itu keheranan, “Mengapa bisa begitu?” Bayazid menjawab, “Karena kelihatannya kau sedang memuji Allah, padahal sebenarnya kau sedang memuji dirimu. Ketika kau katakan: Tuhan mahasuci, seakan- akan kau mensucikan Tuhan padahal kau menonjolkan kesucian dirimu.” “Kalau begitu,” murid itu kembali meminta, “berilah saya nasihat lain.” Bayazid menjawab, “Bukankah aku sudah bilang, kau takkan mampu melakukannya!” Cerita ini mengandung pelajaran yang amat berharga. Bayazid mengajarkan bahwa orang yang sering beribadat mudah terkena penyakit ujub dan takabur. “Hati-hatilah kalian dengan ujub,” pesan Iblis. Dahulu, Iblis beribadat ribuan tahun kepada Allah. Tetapi karena takaburnya terhadap Adam, Tuhan menjatuhkan Iblis ke derajat yang serendah-rendahnya. Takabur dapat terjadi karena amal atau kedudukan kita. Kita sering merasa menjadi orang yang penting dan mulia. Bayazid menyuruh kita menjadi orang hina agar ego dan keinginan kita untuk menonjol dan dihormati segera hancur, yang tersisa adalah perasaan tawadhu dan kerendah-hatian. Hanya dengan itu kita bisa mencapai hadirat Allah swt. Orang-orang yang suka mengaji juga dapat jatuh kepada ujub. Mereka merasa telah memiliki ilmu yang banyak. Suatu hari, seseorang datang kepada Nabi saw, “Ya Rasulallah, aku rasa aku telah banyak mengetahui syariat Islam. Apakah ada hal lain yang dapat kupegang teguh?” Nabi menjawab, :”Katakanlah: Tuhanku Allah, kemudian ber- istiqamah-lah kamu.” Ujub seringkali terjadi di kalangan orang yang banyak beribadat. Orang sering merasa ibadat yang ia lakukan sudah lebih dari cukup sehingga ia menuntut Tuhan agar membayar pahala amal yang ia lakukan. Ia menganggap ibadat sebagai investasi. Orang yang gemar beribadat cenderung jatuh pada perasaan tinggi diri. Ibadat dijadikan cara untuk meningkatkan statusnya di tengah masyarakat. Orang itu akan amat tersinggung bila tidak diberikan tempat yang memadai statusnya. Sebagai seorang ahli ibadat, ia ingin disambut dalam setiap majelis dan diberi tempat duduk yang paling utama. Tulisan ini saya tutup dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dalam musnad-nya; Suatu hari, di depan Rasulullah saw Abu Bakar menceritakan seorang sahabat yang amat rajin ibadatnya. Ketekunannya menakjubkan semua orang. Tapi Rasulullah tak memberikan komentar apa-apa. Para sahabat keheranan. Mereka bertanya-tanya, mengapa Nabi tak menyuruh sahabat yang lain agar mengikuti sahabat ahli ibadat itu. Tiba-tiba orang yang dibicarakan itu lewat di hadapan majelis Nabi. Ia kemudian duduk di tempat itu tanpa mengucapkan salam. Abu Bakar berkata kepada Nabi, “Itulah orang yang tadi kita bicarakan, ya Rasulallah.” Nabi hanya berkata, “Aku lihat ada bekas sentuhan setan di wajahnya.” Nabi lalu mendekati orang itu dan bertanya, “Bukankah kalau kamu datang di satu majelis kamu merasa bahwa kamulah orang yang paling salih di majelis itu?” Sahabat yang ditanya menjawab, “Allahumma, na’am. Ya Allah, memang begitulah aku.” Orang itu lalu pergi meninggalkan majelis Nabi. Setelah itu Rasulullah saw bertanya kepada para sahabat, “Siapa di antara kalian yang mau membunuh orang itu?” “Aku,” jawab Abu Bakar. Abu Bakar lalu pergi tapi tak berapa lama ia kembali lagi, “Ya Rasulallah, bagaimana mungkin aku membunuhnya? Ia sedang ruku’.” Nabi tetap bertanya, “Siapa yang mau membunuh orang itu?” Umar bin Khaththab menjawab, “Aku.” Tapi seperti juga Abu Bakar, ia kembali tanpa membunuh orang itu, “Bagaimana mungkin aku bunuh orang yang sedang bersujud dan meratakan dahinya di atas tanah?” Nabi masih bertanya, “Siapa yang akan membunuh orang itu?” Imam Ali bangkit, “Aku.” Ia lalu keluar dengan membawa pedang dan kembali dengan pedang yang masih bersih, tidak berlumuran darah, “Ia telah pergi, ya Rasulullah.” Nabi kemudian bersabda, “Sekiranya engkau bunuh dia. Umatku takkan pecah sepeninggalku….” Dari kisah ini pun kita dapat mengambil hikmah: Selama di tengah- tengah kita masih terdapat orang yang merasa dirinya paling salih, paling berilmu, dan paling benar dalam pendapatnya, pastilah terjadi perpecahan di kalangan kaum muslimin. Nabi memberikan pelajaran bagi umatnya bahwa perasaan ujub akan amal salih yang dimiliki adalah penyebab perpecahan di tengah orang Islam. Ujub menjadi penghalang naiknya manusia ke tingkat yang lebih tinggi. Penawarnya hanya satu, belajarlah menghinakan diri kita. Seperti yang dinasihatkan Bayazid Al-Busthami kepada santrinya.

Posted by
umar fatah

More

Ulul Albab


MENGKAJI MAKNA ULUL ALBAB ( ORANG-ORANG YANG BERAKAL )

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan lanjut dan bumi (seraya berkata), “Ya Robb kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka dipeliharalah kami dari siksa neraka.” (QS.3:190-191)

Suatu ketika, selepas shalat berjamaah di masjid, Rasulullah saw. berkumpul bersama para sahabatnya. Kemudian beliau meminta sahabat Ibnu Mas'ud membacakan ayat-ayat Qur'an. Pada awalnya Ibnu Mas'ud menolak halus karena ia merasa Rasulullah jauh lebih memahami Qur'an daripada dirinya. Namun sesungguhnya Rasulullah mengetahui kelebihan masing-masing dari para sahabatnya. Dan Ibnu Mas'ud ini, meskipun tubuhnya kecil dan sedikit cacat kakinya (pincang jalannya), namun ia memiliki suara yang merdu dan bacaannya bagus. Sehingga ketika Rasulullah memintanya kembali, Ibnu Mas'ud pun menurutinya. Ketika itu Ibnu Mas'ud membaca ayat-ayat Qur'an surah Ali Imran. Dan ketika sampai pada ayat 190-191(seperti di atas), terdengar isak tangis Rasulullah, sehingga Ibnu Mas'ud menghentikan bacaannya. Para sahabat pun merasa heran melihat Rasulullah menangis, sehingga meraka bertanya seperti pertanyaan yang diajukan Bilal kepada Rasulullah ketika ayat tersebut baru saja turun pada kisah asbabun nuzul di atas. Rasulullah bersabda : "Celakalah bagi orang yang membaca ayat ini, namun tidak memahami maknanya".


Diriwayatkan dari 'Aisyah ra, bahwa Rasulullah saw berkata: "Wahai 'Aisyah saya pada malam ini beribadah kepada Allah SWT". Jawab Aisyah ra: "Sesungguhnya saya senang jika Rasulullah berada di sampingku. Saya senang melayani kemauan dan kehendaknya" Tetapi baiklah! Saya tidak keberatan. Maka bangunlah Rasulullah saw dari tempat tidurnya lalu mengambil air wudu, tidak jauh dari tempatnya itu lalu salat. Di waktu salat beliau menangis sampai-sampai air matanya membasahi kainnya, karena merenungkan ayat Alquran yang dibacanya. Setelah salat beliau duduk memuji-muji Allah dan kembali menangis tersedu-sedu. Kemudian beliau mengangkat kedua belah tangannya berdoa dan menangis lagi dan air matanya membasahi tanah. Setelah Bilal datang untuk azan subuh dan melihat Nabi saw menangis ia bertanya: "Wahai Rasulullah! Mengapakah Rasulullah menangis, padahal Allah telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang terdahulu maupun yang akan datang". Nabi menjawab: "Apakah saya ini bukan seorang hamba yang pantas dan layak bersyukur kepada Allah SWT? Dan bagaimana saya tidak menangis? Pada malam ini Allah SWT telah menurunkan ayat kepadaku. Selanjutnya beliau berkata: "Alangkah rugi dan celakanya orang-orang yang membaca ini dan tidak memikir dan merenungkan kandungan artinya".

Imam Auza'i mengomentari jawaban Rasulullah tersebut, bahwa ayat tersebut tidak sekedar dibaca, tetapi harus dipahami isinya dan direnungkan maknanya. Bagi orang yang memiliki pemikiran luas dan mendalam atau berinteligensi tinggi, maka seluruh apa yang ada di langit dan di bumi yang tercipta itu merupakan kenyataan ontologis, sebagai ayat kauniyyah Allah untuk dipelajari. Demikian pula tentang pergantian waktu malam dan siang memberikan makna tertentu, paling tidak dapat menimbulkan pertanyaan yang semakin mendalam, kemudian menyimpulkan secara sederhana bahwa ada fenomena alam yang penuh keteraturan dan keajegan, sebagai suatu hukum alam yang berlaku atau sunnatullah. Dan kunci tabir sunnatullah tersebut tersirat dalam Qur'an bagi orang yang memperhatikan dan memahaminya.

Banyak di antara kaum muslimin yang pandai membaca Qur'an, bahkan mengerti artinya. Namun umumnya mereka tidak pandai membaca ayat-ayat kauniyyah yang ada di alam ini, sehingga mereka tidak menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Atau sebaliknya, banyak kaum muslimin yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi jauh dari Qur'an atau tidak mau membaca Qur'an. Sehingga kemudian terjadi dikotomi antara petunjuk Qur'an dan ilmu pengetahuan, bahkan dalam beberapa hal saling bertentangan. Oleh karenanya, Allah akan mengangkat derajat seorang muslim yang mampu menyatukan petunjuk Qur'an dan ilmu pengetahuan sebagai satu kebenaran, dimana dalam beberapa firmanNya orang tersebut diberi predikat sebagai ulul albab (QS Ali Imran 190-191 dan Ar Ra'd 19-22)

Istilah Ulul Albab diambil dari bahasa Al-Quran sehingga untuk memahaminya diperlukan kajian terhadap nash-nash yang berbicara tentang Ulul Albab, karena itu agar diperoleh pemahaman yang utuh mengenai istilah tersebut, maka diperlukaan kajian mendalam terhadap ayat-ayat yang berkaitan dengan Ulul Albab, baik dari segi lughawi (bahasa) maupun dari kandungan makna yang dibangun dari pemahaman terhadap pesan, kesan, dan keserasian (munasabah) antara ayat yang satu dengan ayat-ayat sebelumnya.

Menurut Prof . Dr. M. Qurash Shihab (1993) seorang ahli tafsir di Indonesia menjelaskan bahwa kata Albab adalah bentuk jamak dari kata lubb yang berarti saripati sesuatu. Kacang misalnya, memiliki kulit yang menutupi isinya, maka isi kacang itulah yang disebut dengan lubb. Dengan demikian, Ulul Albab adalah orang-orang yang memiliki akal yang murni, yang tidak diselubungi oleh kulit atau kabut ide yang dapat melahirkan kerancuan dalam berfikir sebagaimana terungkap dalam Al-Quran Surat Ali Imron ayat 190-191. Dalam kaitannya dengan Al-Quran surat Ali Imron ayat diatas, ia menjelaskan bahwa orang yang berdzikir dan berfikir (secara murni) atau merenungkan tentang fenomena alam raya, maka akan dapat sampai pada bukti yang sangat nyata tentang keesaan dan kekuasaan Allah.

Muhaimin (2003) yang berdasarkan hasil kajian terhadap istilah “Ulul Albab”, sebagaimana terkandung dalam 16 ayat al-Quran, ditemukan adanya 16 ciri khusus yang selanjutnya diperas ke dalam 5 (lima) ciri utama, yaitu: (1) Selalu sadar akan kehadiran Tuhan disertai dengan kemampuan menggunakan potensi kalbu (dzikir), dan akal (pikir) sehingga sampai pada keyakinan adanya keagungan Allah swt dalam segala ciptaannya; (2) Tidak takut kepada siapapun kecuali kepada Allah swt, mampu membedakan dan memilih antara yang baik dan yang jelek; (3) Mementingkan kualitas hidup baik dalam keyakinan, ucapan maupun perbuatan, sabar dan tahan uji; (4) Bersungguh-sungguh dan kritis dalam menggali ilmu pengetahuan; (5) Bersedia menyampaikan ilmunya kepada masyarakat dan terpanggil hatinya untuk ikut memecahkan problem yang dihadapi masyarakat.

Dalam ayat 191, diterangkan karakteristik Ulil Albab, yaitu selalu melakukan aktivitas dzikir dan fikir sebagai metode memahami alam, baik yang ghaib maupun yang nyata.
Dzikir, secara bahasa berasal dari kata dzakara , tadzakkara, yang artinya menyebut, menjaga, mengingat-ingat. Secara istilah dzikir artinya tidak pernah melepaskan Allah dari ingatannya ketika beraktifitas. Baik ketika duduk, berdiri, maupun berbaring. Ketiga hal itu mewakili aktifitas manusia dalam hidupnya. Jadi,dzikir merupakan aktivitas yang harus selalu dilakukan dalam kehidupan. Dzikir dapat dilkukan dengan hati,lisan, maupun perbuatan. Dzikir dengan hati artinya kalbu manusia harus selalu bertaubat kepada Allah, disebabkan adanya cinta, takut, dan harap kepada-Nya yang berhimpun di hati (Qolbudz Dzakir). Dari sini tumbuh keimanan yang kokoh, kuat dan mengakar di hati. Dzikir dengan lisan berarti menyebut nama Allah dengan lisan. Misalnya saat mendapatkan nikmat mengucapkan hamdalah. Ketika memulai suatu pekerjaan mengucapkan basmalah. Ketika takjub mengucapkan tasbih. Dzikir dengan perbuatan berarti memfungsikan seluruh anggota badan dalam kegiatan yang sesuai dengan aturan Allah .
Fikir, secara bahasa adalah fakara, tafakkara yang artinya memikirkan, mengingatkan, teringat. Dalam hal ini berpikir berarti memikirkan proses kejadian alam semesta dan berbagai fenomena yang ada di dalamnya sehingga mendapatkan manfaat daripadanya dan teringat atau mengingatkan kita kepada sang Pencipta alam, Allah SWT

Keberhasilan hidup bagi penyandang Ulul Albab bukan terletak pada jumlah kekayaan, kekuasaan, sahabat, dan sanjungan yang diperoleh, melainkan terletak pada keselamatan dan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. Penyandang Ulul Albab selalu memilih jenis dan cara kerja yang shaleh artinya mereka bekerja dengan cara yang benar, lurus, ikhlas, dan profesional.

Ulul Albab meyakini adanya kehidupan jasmani dan ruhani, dunia dan akhirat. Kedua dimensi kehidupan tersebut harus memperoleh perhatian yang seimbang dan tidak dibenarkan hanya memprioritaskan salah satunya. Keberuntungan dunia harus berdampak positif pada kehidupan akhirat, demikian juga sebaliknya. Hal ini didasari ajaran Rasulullah yang mengharuskan umat Islam untuk mencari kehidupan dunia seolah-olah akan hidup selamanya, dan mencari kehidupan akhirat seolah-olah kematian sudah di depan mata. Untuk mencapai tujuan tersebut maka pendidikan harus mampu mengembangkan dzikir, fikr, dan amal shaleh. Menurut Suprayogo (2004) ukuran keberhasilan dari pendidikan Ulul Albab dianggap tercapai ketika pribadi yang terbentuk dalam proses pendidikan memiliki kualitas sebagai berikut: 1) Mempunyai ilmu pengetahuan yang luas; 2) Mempunyai penglihatan yanag tajam; 3) Bercorak cerdas; 4) Berhati lembut; 5) Bersemangat juang tinggi karena Allah sebagai pengejawantahan amal shaleh.

Dari uraian tentang ulul albab diatas, menurut penulis bentuk operasional suatu alat ukur adalah konsep Ulul Albab yang ditandai adanya empat kekuatan yaitu:
  • Kedalaman spiritual yaitu kemampuan individu dalam memaknai kehidupan dan berperilaku yang didasari dengan adanya semangat spiritual. Kemampuan ini dicirikan dengan adanya kesadaran terhadap kehadiran Allah, kemampuan untuk mengagumi ciptaan Allah, rasa takut hanya oleh Allah.
  • Keagungan akhlak yaitu kemampuan individu untuk berperilaku mulia sesuai dengan ajaran Islam sehingga perilaku tersebut menjadi ciri dari kepribadiannya. Kemampuan ini dicirikan dengan adanya kemampuan untuk meningkatkan kualitas hidup baik berupa keyakinan, lisan, maupun perbuatan, dan kemampuan untuk bersabar dalam menghadapi cobaan, dan kemampuan membedakan yang baik dan yang buruk.
  • Keluasan ilmu yaitu kualitas seseorang yang dicirikan dengan kepintaran dan kecerdikan dalam menyelesaikan masalah sesuai dengan bidang keahliannya. Kemampuan ini dicirikan dengan sikap bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, kemampuan untuk selalu menggunakan potensi akal fikiran, dan kemampuan untuk selalu menggunakan potensi kalbu (perasaan).
  • Kematangan profesional yaitu kemampuan seseorang untuk bekerja dan berperilaku sebagai seorang profesional dibidangnya. Kemampuan ini dicirikan dengan adanya kesediaan untuk menyampaikan ilmu, kesediaan berperan serta dalam memecahkan masalah umat, dan kebiasaan untuk bertindak sesuai dengan ilmu.
SIMPULAN URAIAN DIATAS

A. Maknanya
1. pertama, orang yang mempunyai pemikiran (mind) yang luas atau mendalam.
2. Kedua, orang yang mempunyai perasaan (heart) yang peka, sensitif atau yang halus perasaannya. 
3. Ketiga, orang yang mempunyai daya pikir (intellect) yang tajam atau kuat.
4. Kempat orang yang mempunyai pandangan alam atau wawasan (insight) yang luas, mendalam atau menukik.
5. Kelima, orang memiliki pengertian (understanding) yang akaurat, tepat atau luas.
6. Dan  keenam, orang yang memiliki kebijakan (wisdom), yakni mendekati kebenaran, dengan pertimbangan-pertimbangan yang terbuka dan adil.

B. Keseimpulan dari bahasan diatas adalah
1. Dari berbagai arti ulul albab di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ulul albab yaitu orang yang berakal, memilki pikiran, perasaan dan hati. Namun bukan hanya sekedar memilikinya akan tetapi mau menggunakannya secara maksimal sehingga ia mampu mendapatkan ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas serta pandangan yang tajam terhadap sesuatu. Penggunaan akal, pikiran dan perasaan ini tentu saja dengan cara yang benar dan dengan tujuan yang baik. Karena banyak orang yang memiliki komponen-komponen ini, namun  tidak mau menggunakannya secara maksimal. Begitu juga banyak orang yang menggunakannya namun tidak dengan cara yang benar dan bukan untuk kebaikan, seperti orang yang menggunakan akalnya hanya untuk akal-akalan mencari keselamatan di dunia.

2. Ulul albab adalah orang-orang yang senantiasa menyeimbangkan dzikir dan pikir, mereka pandai membaca dan memahami maknanya dari ayat-ayat Allah yang tertulis (qauliyyah) berupa Qur'an, dan juga pandai membaca, memikirkan dan memahami ayat-ayat yang tidak terulis (kauniyyah) berupa alam semesta seisinya dan berbagai fenomena kejadian di dalamnya. Mereka senantiasa mengingat Allah dalam keadaan yang bagaimana pun, disamping selalu menggunakan akalnya untuk mengambil hikmah dari berbagai kejadian di alam ini. Dalam firman Allah yang lain orang-orang seperti ini disebut juga sebagai ulul abshar (orang yang menggunakan pengamatannya), seperti pada ayat berikut ini : Allah membuat malam dan siang silih berganti. Sesungguhnya itu semua merupakan pelajaran bagi ulul abshar (QS An Nuur 44). Kita saat ini butuh orang-orang yang berpredikat ulul albab atau ulul abshar, agar Islam kembali memancarkan cahayanya dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, agar umat Islam bangkit dari ketertinggalannya dari umat lain, dan kembali pada jaman kejayaannya seperti yang terjadi di masa lalu. Mudah-mudahan kita, atau ada di antara kita yang berpredikat ulul albab atau ulul abshar. Semoga.

3. Dengan dzikir manusia akan memahami secara jelas petunjuk ilahiyah yang tersirat maupun yang tersurat dalam al-Qur’an maupun as-sunnah sebagai minhajul hayah (pedoman hidup). Dengan fikir, manusia mampu menggali berbagai potensi yang terhampar dan terkandung pada alam semesta. Aktivitas dzikir dan fikir tersebut harus dilakukan secara seimbang dan sinergis (saling berkaitan dan mengisi).
Sebab jika hanya melakukan aktivitas fikir, hidup manusia akan tenggelam dalam kesesatan.
Jika hanya melakukan aktivitas dzikir, manusia akan terjerumus dalam hidup jumud (tidak berkembang, statis). Sedangkan, jika melakukan aktivitas dzikir dan fikir tetapi masing-masing terpisah, dikhawatirkan manusia akan menjadi sekuler.

WALLAHUALAM BISAWAB.

Posted by
umar fatah

More

Uraian 7 pesan hidup

1). Hidup adalah untuk beribadah dan ibadah itu meliputi semua aspek dalam kehidupan sehari-hari asalkan melakukannya benar-benar dengan niat hanya krn اَللّهُ semata. 

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku."

Ibadah bukan hanya ritual saja, tetapi juga apa yang mendasari. Bukan hanya soal tindakan, tetapi juga soal motivasi. 

Ilustrasi : ada seorang pejabat mengunjungi tempat di mana sebuah gedung sedang dibangun. Ia melihat tiga orang tukang bangunan tengah bekerja ; meletakkan batu satu demi satu dan menyemennya. “Sedang apa kalian?” tanya sang pejabat kepada ketiganya. 

Ketiga tukang bangunan itu memberi jawaban berbeda. Tukang bangunan pertama menjawab, “Saya sedang meletakkan batu ini.” Tukang bangunan kedua, “Saya sedang mendirikan tembok.” Tukang bangunan ketiga, “Saya sedang membangun gedung.”

Seumpama apa yang dikerjakan oleh ketiga tukang itu adalah ibadah. Tukang bangunan pertama menganggap pekerjaannya sebagai rutinitas saja. Ia tidak tahu untuk apa melakukannya. Pokoknya itu adalah pekerjaannya, maka ia lakukan. Titik. Sama dengan kita pergi ke mesjid untuk sholat. Mengapa? karena kita orang Islam. Sebagai orang Islam sudah seharusnya kita sholat ke masjid. Selesai.

Tukang bangunan kedua punya tujuan dengan pekerjaannya. Tetapi sayangnya, ia hanya melihat pada pekerjaannya sendiri, yaitu mendirikan tembok. Hanya parsial. Ia tidak melihat bahwa mendirikan tembok hanya salah satu bagian pekerjaan dari keseluruhan pekerjaan membangun gedung. Akibat yang bisa terjadi, ia sangat baik dalam mengerjakan tugasnya mendirikan tembok, tetapi ia bisa tidak mau peduli dengan pekerjaan lain. Padahal semua pekerjaan mendirikan gedung saling terkait, tidak bisa yang satu diperhatikan dan yang lain diabaikan.

Kita pergi ke masjid untuk sholat bukan hanya karena kebiasaan sebagai orang Islam, tetapi untuk beribadah kepada Allah. Sayangnya kita melupakan, bahwa ibadah menyangkut keseluruhan hidup kita. Pergi ke masjid hanyalah salah satu bagian dari ibadah. Akibatnya, di masjid kita menjadi orang yang sangat baik, tetapi di luar masjid kelakuan kita sangat bertentangan.

Tukang bangunan ketiga memberi jawaban paling baik. Dia mempunyai visi yang utuh, yaitu membangun gedung. Maka disamping pekerjaannya sendiri, dia juga tentunya akan memperhatikan pekerjaan lainnya.
Hidup yang beribadah kepada Allah  juga seperti itu tidak terpilah-pilah atau terpisah-pisah. Bahwa kita bekerja, bukan sekadar tuntutan kebutuha. Kita mendidik dan membesarkan anak, bukan sekadar memenuhi kewajiban sebagai orang tua. Kita melakukan ini dan itu, bukan sekadar karena tanggung jawab. Semua itu kita lakukan pula dalam rangka beribadah kepada Allah.

2). Dalam hal melakukan segala sesuatu itu harus dengan upaya yg semaksimal mungkin semampu kita tanpa berfikir hasil akhir karena hasil akhir itu hanya اَللّهُ yang berhak menentukan.

 فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ وَٱسْمَعُوا۟ وَأَطِيعُوا۟ وَأَنفِقُوا۟ خَيْرًۭا لِّأَنفُسِكُمْ ۗ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِۦ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ
  
"Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta ta`atlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Q.S At-Taghaabun 64 : 16)

Kadangkala kita lebih menekankan hasil daripada prosesnya. Akibatnya, sikap untung-untungan dan bukan sikap perencanaan yang ditekankan. Para remaja antre audisi menjadi bintang sinetron karena menjadi bintang itu akan “kaya dan terkenal”. Banyak orang menggadaikan barang-barangnya untuk ikut pemilihan caleg karena duduk di legislatif itu gajinya gede dan ditakuti orang.

Peduli pada hasil daripada proses membentuk mental konsumtif. Kita menjadi pemalas karena tidak pernah berproses, cuma tahu hasilnya belaka. Gajimu berapa sekarang? Kamu dibayar berapa di sana? Itulah pertanyaan kita. Pertanyaannya bukan, kamu kerja pada siapa dan bagaimana kerja di sana? Hasil, upah, gaji, jumlah, itulah yang penting. Bukan bagaimana kerjanya.

Sikap yang berbeda ditunjukkan oleh masyarakat Baduy Dalam. Di sana orang tahunya kerja keras setiap hari, entah berhasil atau tidak berhasil. Mereka “bertapa” di dunia ini, yakni bertapa kerja. Kerja itu ibadah. Hasilnya terserah pada yang memberi. Orang Baduy bekerja sekadar tidak lapar. Kelebihan hasil kerjanya diberikan pada orang lain yang membutuhkannya. Mereka pantang meminta pada orang lain. Kalau diberi pun juga mengukur dirinya, apakah pemberian itu memang berguna buat dirinya.

Proses lebih penting daripada hasil juga ditunjukkan dalam membuat barang-barang. Sebuah barang dibikin dengan proses yang sudah ditetapkan oleh adat bersama. Meskipun hasilnya bagus, kalau tidak melalui proses yang semestinya, hasil kerja itu tetap tidak bermanfaat. Proses atau laku itu jauh lebih penting daripada hasil produknya.

Ujian naik kelas itu juga berproses. Orang harus belajar keras. Meskipun telah belajar keras tetapi tidak lulus juga, dia tahu bahwa dirinya belum cukup keras berproses. Membikin tesis dan disertasi juga berproses. Bukan asal lulus dan tak mau berproses lagi. Lebih baik berproses terus, meneliti terus, meskipun tak pernah diuji dan tak pernah dihargai. Proses itu harus autentik, jujur, tanpa pamrih. Itulah laku ibadah. Beretika.

Dalam kategori Erch Fromm, proses dan hasil ini dirumuskan sebagai sikap “menjadi” (menghargai proses, laku) dan sikap “memiliki” (orientasi hasil). Nyatanya membuat peradaban modern lebih cenderung bersikap memiliki daripada “menjadi”. Tujuan hidup modern adalah akumulasi kepemilikan. Kalau perlu, semua gelar kehormatan diperlihatkan. Kalau perlu semua kekayaan dipamerkan. Kalau perlu kekuasaan ditunjuk-tunjukkan. Bahkan kecantikan dan ketampanan dijual buat memiliki sebanyak-banyaknya uang. Aji mumpung berkembang dalam sikap “hasil”.

Orientasi “hasil” ini, kepemilikan ini, akan membuat orang bersikap konsumtif bukan produktif. Kerja selingan mungkin hasil sebanyak mungkin. Kalau perlu tanpa kerja apa pun hasil terus mengalir. Jabatan lantas dilihat berapa besar dapat memperoleh benda konsumsi, bukan betapa berat tugas yang harus saya pertanggungjawabkan. Yang penting menjadi direktur, entah bagaimana kerjanya karena jabatan direktur merupakan akumulasi kepemilikan kekuasaan, kekayaan, dan kesohoran.

Menyontek itu bukan dosa intelektual, yang penting lulus atau tersohor. Otak ini dipenuhi akumulasi konsumsi pengetahuan dan bukan hasil proses kerja sendiri. Yang dinamakan orang pandai di Indonesia itu kalau berhasil menjadikan otaknya sebagai terminal pikiran-pikiran produk orang lain. Produk pemikiran sendiri itu nilainya rendah karena melalui proses laku sendiri.

Bagaimana bangsa ini akan menjadi bangsa besar kalau penghargaan terhadap proses diabaikan? Kita bisa belajar dari Cina, yang dari dulu ngotot percaya diri pada kekuatannya sendiri dan cara berpikirnya sendiri. Memang melalui proses panjang untuk membuktikan bahwa mereka akhirnya berhasil mencapai dirinya. Harus sabar tetapi terus tekun berproses. Ada perencanaan, bukan untung-untungan. Dolar boleh jatuh, tetapi rupiah tetap stabil. Itu semua akibat hasil proses.

Proses, kerja, laku, lampah, itulah hidup ini. Pantang meminta, tetapi mampu memberi. Jangan hanya belajar, tetapi juga akan dipelajari. Semua produk itu ada prosesnya. Apa bangganya mengonsumsi produk dari proses orang lain? Puaslah dengan produk sendiri yang melalui proses autentik diri sendiri. Kita bukan bangsa peminta, tetapi bangsa pemberi. Mulailah menghargai proses.


3). Hanya اَللّهُ lah yg mengetahui apa yang terbaik buat diri kita, kita tdk pernah mengetahui apa yang terbaik buat diri kita sendiri apalagi untuk org lain, namun kita sering menjadi sombong dengan merasa tahu sehingga seringkali kita jadi memaksakan keinginan kita kepada اَللّهُ 

قُلْ أَتُعَلِّمُونَ ٱللَّهَ بِدِينِكُمْ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌۭ

Katakanlah: "Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu, padahal Allah mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu?" (Q.S Al-Hujuraat 49 : 16)

Dalam sebuah atsar diriwayatkan oleh Wahb bin Munabbih disebutkan bahwa Allah berfirman: “Hamba-Ku! Taati sajalah apa yang sudah Aku perintahkan kepadamu, dan jangan (sekali-kali) mengajari-Ku terhadap apa saja yang baik untukmu.”

Bagi seorang mukmin sejati yang memiliki ketajaman nurani, tentulah terhindar dari sikap “lancang” dengan mengajari Allah terhadap segala hal yang baik untuknya. Karena memang manusia manapun di dunia ini tidak akan pernah tahu rencana dan skenario Allah ketika Dia menimpakan segala musibah dan masalah kepada hamba-Nya.

Rasanya sudah terlalu sering kita mengajari Allah bahkan terkadang harus menyalahkan-Nya saat harapan-harapan dan cita-cita kita yang kita nantikan dan tunggu tidak kunjung datang atau malah hanya kegagalan yang kita raih. Prasangka-prasangka buruk terhadap Allah melintas di fikiran kita tanpa bisa kita cegah, karena kebodohan dan kelemahan kita dalam memahami hakikat keberadaan kita di dunia ini.

Allah berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 216: “Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui”

Banyak hal di dunia ini yang berada diluar kekuasaan kita, dan kita tidak pernah mampu menghindar dan menolaknya. Hal yang demikian karena memang kita diciptakan hanya untuk tunduk dan patuh terhadap perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Saat manusia menderita dengan rezeki yang serba kekurangan (menurutnya) seharusnya bersyukur karena Allah sedang membimbingnya agar selalu menggantungkan harapan dan memohon kepada-Nya. Saat seseorang nestapa karena kehilangan apa saja yang dicintainya selayaknya berbahagia karena pada saat yang sama Allah sedang menuntunnya agar tidak mencintai apapun melebihi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Selama paru-paru ini masih bernafas, jantung ini masih berdetak, darah ini masih mengalir, manusia tidak akan pernah terlepas dari deraan cobaan dan ujian. Karena memang dunia diciptakan sebagai tempat ujian dan akhirat sebagai tempat balasan. Kesenangan sejati hanya akan diraih jika kita sudah menginjakkan kaki di surga. Jika memang dunia ini diciptakan untuk tempat bersenang-senang, maka para nabi seharusnya yang paling berhak mendapatkannya. Lantas, kenapa malah merekalah yang paling banyak dan sering mendapatkan rentetan cobaan dan cabaran.

Semoga sebuah hadits ini akan membuat kita sadar, bersimpuh dan tertunduk malu dihadapan-Nya dan berhenti mengajari-Nya atau menyalahkan ketentuan-Nya saat doa-doa belum terpenuhi dan harapan-harapan yang gagal diraih. Karena memang tidak ada kebetulan dalam kehidupan ini. Sebuah hadits yang riwayatkan oleh imam al-Baihaqi dari sahabat Anas bin Malik RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Malaikat Jibril AS berkata: Wahai Allah, hamba-Mu si fulan penuhilah segala keperluan (yang diminta)nya. Allah pun menjawab: (sudah) biarkan saja hamba-Ku (itu), Sungguh Aku senang mendengar suaranya (saat bermunajat kepada-Ku).

4). اَللّهُ itu memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan.

كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ خَيْرٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ شَرٌّۭ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci.Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Q.S Al-Baqarah 2 : 216)

Setiap kita tentu menyukai keindahan. Karena itulah fitrah yang Allah SWT berikan kepada kita sebagai hambaNya. Menyukai dan menyenangi keindahan. Sebagaimana kita merasa senang melihat keindahan kupu-kupu yang terbang di antara bunga yang berwarna warni. Keindahan itu memberikan kesejukan bagi siapapun yang memandang. 

Tetapi terkadang kita lupa bahwa keindahan itu diperoleh dari sebuah proses yang melelahkan. Proses yang boleh jadi menyakitkan. Tapi itulah sunnatullah. Sebagaimana kupu-kupu yang kita lihat demikian mempesona, lahir dari sebuah proses yang sangat melelahkan. Dan sesungguhnya ia lahir dari bentuk yang, menurut sebagian besar dari kita, menjijikkan dan menakutkan. Seekor ulat. Berhari-hari sang calon kupu-kupu tersebut berpuasa. Tidak makan dan tidak minum. Ketika pun saatnya ia akan lahir, sang calon kupu-kupu itupun harus melalui perjuangan yang melelahkan dan juga menyakitkan. Ia harus melewati sebuah lubang yang sangat kecil bahkan menjepit tubuhnya yang masih lemah. Tetapi ia terus berjuang dan berjuang. Karena ia yakin Allah SWT memberikan hikmah dibalik kesulitan yang ia alami. Setelah melewati proses yang panjang tersebut akhirnya ia lahir sebagai kupu-kupu yang indah dengan sayap mempesona.
Kesulitan, kelelahan dan kesakitan yang dialami sesungguhnya bagian dari tarbiyah dari Allah SWT untuk memberikan kekuatan kepada sang calon kupu-kupu. Tersebutlah dalam sebuah cerita seorang yang sangat baik hati melihat sang calon kupu-kupu terjepit dalam kepompong yang mulai terbuka. Orang baik ini merasa iba dengan sang calon kupu-kupu. Ia tidak tega melihat penderitaan sang calon kupu-kupu ini untuk keluar dari lubang kepompong yang kecil bahkan teramat kecil untuk ukuran tubuhnya. Akhirnya ia pun berbaik hati membantu membukakan kepompong tersebut agar lubangnya lebih besar dan agar penderitaan sang calon kupu-kupu ini segera berakhir. Usahanya tidak sia-sia. Sang kupu-kupu keluar dengan mudah. Sangat mudah. Orang baik ini tersenyum. Lega. Karena telah membantu menghilangkan kesulitan sang kupu-kupu.
Dipandanginya kupu-kupu kecil tersebut. “Terbanglah sayang. Nikmatilah luasnya angkasa ciptaan Allah.” Bisik orang baik ini memberi semangat. Tunggu tinggal tunggu. Tetapi sang kupu-kupu ini tak kunjung bergerak untuk terbang. Beberapa kali ia mencoba mengangkat sayapnya tetapi berkali itu pula ia gagal. Sayapnya terlalu kecil mengangkat beban tubuhnya yang lebih besar. Sang kupu-kupu ini menggelepar dan akhirnya mati tanpa pernah bisa terbang sebagaimana kupu-kupu yang lain.

Orang baik ini tercenung. Mengapa gerangan ia tidak bisa terbang? Orang baik ini merasa sedih. Ternyata kesulitan sang calon kupu-kupu untuk keluar dari kepompong, satu hal yang harus ia lewati. Karena di sinilah Allah SWT menempa kekuatan sang calon kupu-kupu tersebut. Ketika tubuhnya terjepit lubang kepompong, Allah SWT mengalirkan cairan yang ada dalam tubuh sang kupu-kupu ini ke bagian sayap. Sehingga ketika berhasil keluar dari kepompong tubuhnya lebih kecil dari sayapnya dan sayap ini pun lebih besar dan lebih kuat sehingga mampu mengangkat tubuh sang kupu-kupu ini terbang bebas di angkasa.Subhanallah.

Inilah hikmah di balik setiap kesulitan. Proses yang sulit, melelahkan dan terkadang menyakitkan adalah tarbiyah dari Allah SWT agar kita menjadi pribadi yang lebih kuat. Pribadi yang lebih baik. Pribadi yang mampu memberikan kesejukan bagi siapapun yang memandang. 

Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”
Ternyata Allah SWT memberikan apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan.

5). Segala sesuatu yang kita miliki adalah milik اَللّهُ semata termasuk ILMU, sehingga kita tidak berhak untuk menguasainya sendirian melainkan harus diamalkan dengan pertanggungjawabannya nanti kelak di hadapan اَللّهُ ... Demikian pula halnya dengan harta sehingga kita harus siap setiap saat bila semua itu nanti diambil kembali oleh اَللّهُ . 

وَلِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍۢ مُّحِيطًۭا

"Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan adalah (pengetahuan) Allah Maha Meliputi segala sesuatu." (Q.S An-Nisaa`4 :126 )


Allah adalah Maha Kaya (tidak membutuhkan sesuatu yang lain), sedangkan manusia adalah miskin (selalu membutuhkan sesuatu yang lain). Saat manusia lahir sebagai bayi, dia dalam keadaan telanjang bulat, tidak membawa apa-apa, dan belum tahu apa-apa. Saat manusia mati sebagai mayat, dia dalam keadaan kaku, tidak membawa apa-apa (kecuali amal dan kain putih), dan sudah tidak tahu apa-apa.

Semuanya adalah milik Allah. Manusia hanya sekedar “dipinjami” atau “dititipi” oleh Allah. Apa saja yang diperoleh, dirasakan dan dipakai oleh manusia hanya sekedar “barang pinjaman” atau “barang titipan” milik Allah. Suatu saat barang itu akan diminta oleh yang pemiliknya.

Harta melimpah yang kita nikmati selama ini hanyalah “barang pinjaman” (“titipan”) milik Allah.  Allah hanya sekedar meminjami sebagian kecil kekayaan-Nya kepada kita. Kekuasaan dan jabatan yang kita genggam hanyalah sekedar “barang pinjaman” (“titipan”) milik Allah yang Maha Kuasa (al-Malik). Amanah dari Allah tersebut digunakan untuk mengatur, melindungi, dan mensejahterakan rakyat atau bawahan, bukan untuk memperkaya diri dan keluarga.

Ilmu yang selama ini kita dalami, dan kita menfaatkan hanyalah sekedar “barang pinjaman” (“titipan”) milik Allah yang Maha ber-Ilmu (al-‘Alim). Kewajiban kita adalah mengamalkan ilmu untuk kesejahteraan ummat manusia (rahmatan lil’aalamiin), bukan untuk menghancurkannya.

Nyawa kita, anggota tubuh kita, dan semua kemampuan kita hanyalah sekedar “barang pinjaman” (“titipan”) milik Allah SWT, yang semuanya pasti akan dikembalikan kepada-Nya. Kewajiban kita adalah mengabdikan diri (beribadah) kepada Allah semata (sebagai ‘abdullah) dan mengelola kehidupan dunia menurut petunjuk-Nya (sebagai khalifah), bukan untuk hidup menurut nafsu kita.

Kesabaran dan usaha yang keras menjadi kunci untuk mengatasi krisis yang masih melanda dunia. Kesadaran yang mendalam bahwa “semua milik Allah dan semua akan kembali kepada Allah” akan membawa pada kehidupan yang tenang, damai, dan optimis. Kesadaran ini juga harus diikuti dengan usaha sungguh-sungguh untuk mengatasi problem yang dihadapi.  Allah bersama orang-orang yang sabar (QS. al-Baqarah 2:153).

6). Segala sesuatu datang dari اَللّهُ dan akan kembali ke اَللّهُ jua sehingga kita tidak perlu merasa stress dalam menghadapi permasalahan. Masalah itu datang dari اَللّهُ maka solusinya pun hanya kepada اَللّهُ jua lah tempat kita bertanya dan memohon petunjuk. 

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌۭ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

"(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun" (Q.S Al-Baqarah 2 :156)

Semua yang berasal dari Allah akan kembali kepada Allah. Kalimat tersebut barangkali sudah tidak asing di telinga kita, terlebih ketika seorang manusia ditimpa musibah atau meninggal dunia. Namun sungguh sangat disayangkan kebanyakan manusia tidak memahami secara mendalam makna spiritual yang terkandung dalam kalimat tersebut. 

Jika kita pahami dan resapi makna tersebut, maka akan timbul pemahaman bahwa segala sesuatu yang ada di jagat raya ini milik Allah dari yang terbesar maupun yang terkecil, termasuk diri kita sendiri. Jika semuanya adalah milik Allah maka kita hanya sebatas diberikan amanah dan diuji, yang nantinya akan diambil kembali sang pemilik. 

Diibaratkan ketika kita diberi pinjam sebuah motor untuk jangka waktu tertentu. Kita sadar bahwa motor tersebut bukanlah milik kita dan kita juga sadar bahwa nanti pada waktunya motor tersebut akan dimintai kembali oleh pemiliknya tanpa ada rasa sedih atau menyesal ketika kita mengembalikannya. Nah, kesadaran spiritual seperti inilah yang seharusnya dimiliki oleh setiap diri kita yang harus teraplikasi secara utuh dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga ketika kita ditimpa musibah kematian maka kita harus paham dan sadar bahwa kematian adalah suatu kewajaran yang harus diterima sebagai proses “diambilnya” seseorang kepada pemiliknya, sehingga tidak ada bagi kita kesedihan dan kekhawatiran bagi yang ditinggalkan.   

7). Dalam melakukan ibadah itu harus lah dilakukan dgn niat krn اَللّهُ semata bukan mengharapkan surga atau pun pahala krn surga atau pahala itu hanyalah bonus. Jadi lakukan dgn niat Lillaahi Ta'alla bukan Lilbonus atau Lil-lil lainnya.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

Katakanlah : "sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam". (Q.S Al-An`aam 6 : 162


Siapapun yang beribadah kepada Allah karena motivasi kepentingan tertentu dengan harapan sesuatu dari-Nya, atau beribadah dalam rangka menolak bencana dari Allah, maka sesungguhnya ibadah orang tersebut (meskipun tidak salah) tapi belumlah berpijak dengan tepat sesuai dari sifat Allah itu sendiri.

Kenapa demikian?

Betapa banyaknya orang beribadah kepada Allah tidak didasari keikhlasan mutlak (Lillaahi Ta’ala), tetapi masih demi yang lain, demi kepentingan duniawi, naiknya jabatan, sukses kariernya, mendapatkan jodoh, dagangannya laku, bahkan demi menolak balak dan bencana atau siksa.

Apakah Allah Ta’ala memerintahkan kita melakukan ibadah dan menjauhi larangan-Nya karena sebuah sebab dan alasan-alasan tertentu seperti itu?

Bukankah kita beribadah karena kita memang harus melakukan ibadah dan menyambut dengan ikhlas (tanpa keinginan yang lain) sifat Rububiyah-Nya (sifat ke-Tuhan-an) melalui sifat Ubudiyah (sifat ke-Hamba-an) kita?

Bukankah segalanya sudah dijamin Allah, dan segalanya dari-Nya, bersama-Nya serta menuju kepada-Nya?

Apakah Allah tidak layak disembah, tidak layak menjadi Tuhan, tidak layak diabdi dan diikuti perintah serta larangan-Nya, manakala Allah tidak menciptakan syurga dan neraka?

Bukankah Rasulullah SAW, mengkhabarkan :

“Janganlah diantara kalian seperti budak yang buruk, jika tidak diancam ia tak pernah bekerja. Juga jangan seperti pekerja yang buruk, jika tidak diberi upah ia tidak bekerja”
Dalam kitab Zabur Allah berfirman :

“Adakah orang yang lebih zalim dibanding orang yang menyembah-Ku karena syurga atau takut neraka? Apakah jika Aku tidak menciptakan syurga dan neraka, Aku tidak pantas untuk ditaati?”


Diuraikan oleh : Admin PRODIMAAR

Posted by
umar fatah

More

Zuhud


Manusia adalah makhluk pengejar kebahagiaan. Namun, tak semua manusia mencicipi hidup bahagia. Karena tidak setiap manusia tahu bagaimana merengkuh kebahagiaan.

Kebahagiaan tergantung pada pola hidup. Islam menganjurkan pola hidup zuhud. Apakah zuhud itu? Zuhud terumuskan dalam dua kalimat Alquran.

”Supaya kamu tidak bersedih karena apa yang lepas dari tanganmu dan tidak bangga dengan apa yang diberikan kepadamu.” (QS Al-Hadid: 23).

Ada dua ciri zahid (individu yang menjadikan zuhud sebagai pola hidup).

Pertama, zahid tidak menggantungkan kebahagiaan hidupnya pada apa yang dimiliki. Bila bahagia ditambatkan pada kendaraan yang dimiliki, kala kendaraan itu tergores, hilanglah bahagia yang bersemayam di dada. Jika hati dilabuhkan pada yang dimiliki, maka saat apa yang dimiliki itu terlepas dari genggaman, terlepaslah kebahagiaannya.

Kedua, kebahagiaan zahid tidak terletak pada materi, tapi pada dataran spiritual. Hidup akan menjelma menjadi guyonan yang mengerikan bila makna bahagia disandarkan pada benda. Sebab, benda hanya menunggu waktu untuk lenyap.

”Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS Al-Rahman: 26-27).

Hakikat zuhud bukanlah meninggalkan dunia, namun tidak meletakkan hati padanya. Zuhud bukan menghindari kenikmatan duniawi, tetapi tidak meletakkan nilai yang tinggi padanya.

”Tiadalah perbandingan dunia ini dengan akhirat, kecuali seperti seorang yang memasukkan jarinya dalam lautan besar, maka perhatikan berapa dapatnya. (HR Muslim).

Oleh sebab itu, zuhud dalam kehidupan dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal.

”Zuhud terhadap kehidupan dunia tidak menganggap apa yang ada pada dirimu lebih pasti dari apa yang ada pada Allah SWT dan hendaklah engkau bergembira memperoleh pahala musibah yang menimpamu walaupun musibah itu akan tetap menimpamu.” (HR Ahmad).

Dalam hadis Qudsi, diriwayatkan,

”Allah berfirman wahai dunia, berkhidmatlah kepada orang yang telah berkhidmat kepada-Ku, dan perbudaklah orang yang mengabdi kepadamu. (HR Al-Qudlai).”

Ringkasnya, rumus hidup bahagia adalah kemampuan memilih nikmat yang abadi di atas kenikmatan yang fana. Bagaimana supaya baju zuhud dapat dikenakan? Dalam Nashaih Al-Ibad, Syaikh Nawawi al-Bantani menceritakan kisah Ibrahim bin Adham tentang mencapai zuhud.

Beliau menjawab, ”Ada tiga sebab, saya melihat kuburan itu mengerikan, sedangkan belum kudapati pelipur (atasnya). saya melihat jarak perjalanan amatlah jauh, padahal belum kumiliki bekal, dan saya melihat Allah yang Maha perkasa akan mengadili, padahal belum kudapati alasan (untuk mengelak dari hukumannya). ”

[Sumber: REPUBLIKA]

Posted by
umar fatah

More

Copyright © / _______YES (?)

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger